Diberdayakan oleh Blogger.

Pelestarian Alam dan Lingkungan Menurut QS al-A'raf Ayat56

Radar Abdalla | 20 Januari 2010 | Rabu, Januari 20, 2010 wib | Label: Agama, Makalah dan Karya Ilmiah
Oleh Asep Bunyamin

A. Pendahuluan

Alam diciptakan Allah untuk manusia dalam rangka memenuhi hajat hidupnya. Namun tanpa disadari, manusia menjadi makhluk antroposentris yang menjadikan alam sebagai mesin yang sempurna untuk diekploitasi sebesar-besarnya demi kesejahteraan hidup. Tak ada etika di sana, tak ada kasih sayang terhadap sesama maupun alam.

Akhirnya unsur-unsur alam yang sangat erat dengan kehidupan mansuia, yakni air, udara dan tanah mengalami polusi sedemikian rupa. Sehingga organisme yang menempati, termasuk manusia, bermigrasi, atau bahkan terancam kepunahan.

Kerusakan lingkungan alam tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia. Terbukti, bahwa sebagian besar bencana-bencana yang terjadi bukanlah karena faktor alam semata, tetapi karena ulah dan perilaku manusia sendiri, seperti banjir dan pencemaran lingkungan.



B. Pelestarian Alam dan Lingkungan dalam al-Quran

Dalam al-Quran, dijelaskan mengenai dimensi alam semesta yang secara makro berpusat pada dua tempat, bumi dan langit, dan menyatakan bahwa semua yang diciptakan adalah untuk manusia. Allah telah menggariskan takdirnya atas bumi, yaitu: Pertama kalinya, Allah memberikan fasilitas terbaik bagi semua penghuni bumi. Diciptakan lautan yang maha luas dengan segala kekayaan di dalamnya (QS. an-Nahl : 14) dan air hujan yang menghidupkan bumi setelah masa-masa keringnya (QS. Al-An’am : 99 dan QS. Ibrahim : 32). Tak sekedar itu, Allah memperindah polesan bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin dan awan di angkasa, sebagai teman hidup manusia.

Setelah selesai dengan penciptaannya, Allah hanya memberikan sebuah amanat kepada manusia untuk mengelola dan memeliharanya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Al-A’raf : 56:

Ÿwur (#r߉šøÿè? †Îû ÇÚö‘F{$# y‰÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu‘ «!$# Ò=ƒÌ�s% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# (الأعراف : 56)

”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Larangan pada ayat di atas adalah larangan untuk berbuat kerusakan di atas bumi. Kerusakan yang dimaksud adalah berhubungan dengan berbagai bentuk kerusakan, seperti pembunuhan, perusakan keturunan, akal, dan agama. Sedangkan yang dimaksud dengan kata ”Ba’da Islahiha” adalah setelah Allah memperbaiki penciptaannya sesuai dengan peruntukkannya bagi kemanfaatan makhluk dan kemaslahatan orang-orang mukallaf.[1]

Hal di atas senada dengan penafsiran yang disampaikan oleh Syihabuddin,[2] bahwa Allah melarang berbagai bentuk kerusakan seperti merusak jiwa (pembunuhan), harta, keturunan, akal dan agama setelah Allah memperbaiki semuanya dan menciptakannya untuk dimanfaatkan oleh makhluk serta untuk kemaslahatan orang-orang mukallaf dengan cara Allah mengutus seorang rasul di atas bumi dengan membawa syari’at dan hukum-hukum Allah.

Abu al-Fida yang ber’alam Kunyah ”Ibnu Katsir”[3] mengatakan, firman Allah swt. ”.وَلاَ تُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ إلخ” mengandung pengertian bahwa Allah swt. melarang kepada hambanya berbuat kerusakan di atas bumi dan berbuat apa yang dapat merugikannya setelah adanya perbaikan. Karena sesungguhnya jika segala sesuatu berjalan di atas kebaikan, kemudian terjadi sebuah kerusakan maka akan menjadikan sebuah kerugian bagi manusia. Oleh karenanya Allah melarang perbuatan tersebut dan memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah, berdo’a, tawaddlu dan merendahkan diri kepada-Nya.

Ketiga penafsir di atas memberikan interpretasi, bahwa kerusakan yang dikandung dalam ayat di atas adalah berbagai kerusakan lingkungan. Menurut Fuad Amsyari[4], lingkungan dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, lingkungan fisik, yakni segala ”benda mati” yang ada di sekitar kita, seperti rumah, kendaraan, gunung, udara, air, sinar matahari, dan lain-lain. Kedua, lingkungan biologis, yakni segala organisme yang hidup di sekitar manusia, baik berupa tumbuhan maupun binatang. Ketiga, lingkungan sosial, yakni manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya, tetangga, teman, atau orang lain yang belum dikenal.

Seluruh kategori lingkungan di atas disebut sebagai lingkungan hidup, yakni segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati, dan mempengaruhi hal-hal yang hidup, termasuk kehidupan manusia.

Dalam kenyataan abad sekarang ini, seluruh kategori lingkungan tersebut benar-benar mengalami gangguan pencemaran yang dahsyat[5]. Seakan-akan pencemaran yang terjadi semakin kompleks. Bukan saja kerusakan alam, tapi sudah menjalar pada kerusakan lingkungan sosial. Sebab, antara lingkungan fisik dan perilaku organisme saling mempengaruhi.

Selain sebagai amanat, tindakan memelihara alam (tidak membuat kerusakan di bumi) merupakan manifestasi perintah syukur kepada Tuhan. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai syukur, maka dari awal kelahirannya, sudah mengajarkan pentingnya memelihara alam. Bahkan, ketika perang pun Islam masih mengagungkan titah itu. Tersebut dalam sejarah, para khalifah Islam, seperti Abu Bakar dan Umar, setiap kali akan melepas laskar ke medan perang tak pernah lupa memperingatkan:

”Jangan tebang pohon atau rambah tanaman, kecuali jika akan dipergunakan atau dimakan, dan janganlah membunuh binatang kecuali untuk dimakan, hormati dan lindungi semua rumah ibadah manapun, serta jangan sekali-kali mengusik mereka yang sedang beribadah menurut agama mereka masing-masing. Janganlah membunuh orang-orang yang tidak bersenjata (yang tidak terlibat langsung dalam peperangan).”[6]

Sebagai implementasi titah di atas, ada sebuah riwayat yang mengatakan: ”Sesaat setelah Amr bin Ash menaklukan mesir, seekor burug merpati membuat sarang di atas tendanya. Padahal, mereka segera berangkat meninggalkan Mesir. Sebenarnya, Amr bin Ash dapat memerintahkan para prajurit membongkar tendanya. Namun hal itu tidak dilakukan. Sebab ia tidak ingin mengusik sang merpati yang sedang mengerami telurnya[7].

Tidak ditemukan dalam sejarah bahwa umat Islam adalah sebagai ”perusak lingkungan”, sekalipun dalam peperangan. Pertempuran yang berlangsung di zaman Nabi tak pernah menyebabkan kerusakan alam yang mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi, sebagaimana peperangan pada abad-abad mutakhir. Ketika itu perang tidak menjadi penyebab kerusakan alam, hanya menghancurkan musuh[8]. Demikian implementasi Islam dalam memelihara alam, meski dalam peperangan.

Tidak hanya dalam medan pertempuran, ketika beribadah pun nuansa Islam dalam mengkonversi alam masih sangat kental. Terbukti, ketika haji, orang yang ihram dilarang membunuh binatang, dan mencabut pohon. Bahkan, jika melanggar akan dikenakan sangsi.

Lebih lanjut, Islam juga memberikan kabar gembira bagi mereka yang mau melestarikan alam. Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits pernah besabada, ”Barangsiapa yang menanam sebuah pohon, dan pohon itu berbuah, Allah akan memberikan pahala kepada orang itu sebanyak buah yang tumbuh dari pohon tersebut.”

Nabi juga pernah bersabda, ”Memakan setiap binatang buas yang bertaring adalah haram.” Hadits ini oleh Fuqaha (para ahli fiqh) dijadikan dasar atas diharamkannya binatang yang bertaring dan bercakar, seperti harimau, serigala, beruang, kucing, gajah, badak, macan tutul dan rajawali.

Memang, pada mulanya, pelarangan tersebut bersifat tekstual-normatif, karena diambil berdasarkan sabda nabi semata. Namun, pada perkembangan berikutnya, setelah dikontekskan dengan realitas kekinian, pengharaman itu membawa hikmah yang begitu besar. Binatang-binatang yang diharamkan tergolong spesies binatang yang langka yang dilindungi. Sebut saja misalnya rajawali. Semua jenis hewan ini, di belahan dunia manapun dilindungi[9]. Bukti ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Islam ternyata ikut andil dalam pelestarian hewan langka yang berperan aktif sebagai penjaga ekosistem alam.

Karena pengharaman tersebut didasari teks keagamaan, maka melaksanakannya adalah sebuah kewajiban bagi setiap umatnya. Bahkan, bukan sekedar kewajiban, tapi kebutuhan manusiawi, sehingga ekosistem tetap terjaga.

Pelestarian alam dalam Islam sifatnya konservatif, yang melindungi nilai-nilai yang telah ada. Baik kondisi alami, estetika maupun kekayaan alam yang telah terbentuk sejak awalnya. Alam, sebagaimana disinggung dalam QS. Al-A’raf : 56, mengalami perubahan menuju pada ekosistem yang seimbang setelah mencapai ratusan bahkan jutaan tahun. Maka, mempertahankan alam yang telah menjalani proses tersebut adalah sebuah keharusan dan kebutuhan manusia.

Mengingat pentingya pelestarian alam itulah, Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw. telah memperkenalkan kawasan lindung (hima’), yakni suatu kawasan yang khusus dilindungi pemerintah atas dasar syari’at guna melestarikan kehidupan liar di hutan. Nabi pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’ guna melindungi lembah, padang rumput dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Lahan yang beliau lindungi luasnya sekitar enam mil atau lebih dari 2049 hektar[10]. Selain hima’, Islam juga memperkenalkan konsep ihya’ul mawat, yakni usaha mengelola lahan yang masih belum bermanfaat menjadi berguna bagi manusia.

Dua konsep di atas, menunjukkan kepada kita bahwa Islam adalah telah sedini mungkin ikut melestarikan alam, sebagaimana juga telah ikut aktif dalam memelihara keberlangsungan hewan langka melalui pelarangan konsumsi. Inilah makna konsep Rabbil ’alamin (pemelihara seluruh alam), yakni sifat Tuhan yang direalisasikan pada tugas kekhalifahan manusia. Artinya, segenap makna yang terkandung dalam kata itu harus tercermin dalam setiap tindakan dan perilaku manusia dengan alam, karena ia menempatinya dan bertanggung jawab terhadap eksistensinya.

C. Perlu Adanya Rumusan Konsep Fiqh Lingkungan

Mengingat titah yang terdapat dalam QS. Al-A’raf : 56, harus menjadi bahan pemikiran bagi para cendekiawan muslim untuk merumuskan sebuah kajian ilmiah tentang fiqh lingkungan. Kita tahu bahwa dalam kitab-kitab fiqh klasik, belum ada pembahasan secara spesifik dan mendalam yang memperhatikan perlunya konsep pemeliharaan alam dalam perspektif Islam.

Pembahasan literatur-literatur fiqh klasik hanya berkutat seputar mu’amalah, ibadah ritual, dan munakahat saja. Itupun masih bersifat praktis-pragmatis yang melihat segala persoalan dari sudut pandang halal-haram, wajib, mubah, makruh, dan sunnah.

Jika fiqh menyinggung soal akhlaq atau etika, itu hanya terbatas pada etika interaksi antara manusia dengan sesama. Atau paling jauh dengan binatang. Paradigma etika yang selama ini terbangun dalam Islam hanya terbatas pada ”etika kemanusiaan” tanpa konsep jelas tentang ”lingkungan”.

Akibatnya, konsep nyata Islam dalam pemeliharaan lingkungan alam masih kabur dan belum menemukan formulasinya hingga sekarang, tidak seterang konsep ekonomi Islam yang memang sejak dahulu sudah menjadi banyak perhatian ilmuwan muslim. Jangan disalahkan bila kondisi demikian menimbulkan stigma negatif bahwa Islam kurang peduli dengan lingkungan alam. Selama ini, Fuqoha hanya mengkategorikan lima komponen yang harus dilindungi, yakni nyawa (hifdzunnafs), harta (hifdzulmal), akal (hifdzulaql), keturunan (hifdzunnasl), dan agama (hifdzuddin). Sementara lingkungan belum masuk dalam kategori komponen yang harus dilindungi (hifdzulbi’ah).

D. Penutup

Al-Quran surat al-A’raf : 56 merupakan bentuk kontribusi Islam yang paling mendasar dalam ikut serta memelihara lingkungan alam. Kesimpulan yang penulis berikan, ada dua sisi dalam Islam yang menunjukkan hal itu. Pertama, dari sisi teologis. Islam menganjurkan manusia untuk memelihara alam dengan jaminan pahala bagi yang melaksanakannya. Bahkan dalam ibadah pun Islam masih memberikan ruang untuk itu. Ini akan mendorong jiwa seseorang untuk selalu memelihara alam. Kedua, dari sisi aplikatif. Sejak zaman Nabi saw., telah diperkenalkan konsep hima’ dan ihyau al-mawat. Dua konsep ini yang sampai sekarang tetap butuh diterapkan.


DAFTAR PUSTAKA

al-Alusy, Syihabuddin Mahmud bin Abdillah al-Husainy. tt. Ruhu al-Ma’any fii Tafsiiri al-Quranu al-’Adhiim wa as-Sab’u al-Matsani. Beirut; Dar al-Fikr.

al-Dimasyqy, Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr bin Katsir al-Quraisy. 1999. Tafsir al-Quranul ’Adhim Juz 3. Dar at-Thayyibah li an-Nasyr wa al-Tauzi.

Amsyar, Fuad. 1981. Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Jakarta; Ghalia Indonesia.

Badri, M. Abdullah. 2007. Membangun Lingkungan Berbasis Kasih Sayang. dalam Erlangga Husada, dkk., Kajian Islam Kontemporer. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah.

Hayyan, Ibnu. tt. al-Bahru al-Muhiath. Beirut; Dar al-Fikr.

Rahim, Ahmad Imadudin Abdul, Dr., Ir., M.Sc. 2002: Islam Sistem Nilai Terpadu, Jakarta: Geman Insani Press.


[1] Ibnu Hayyan, al-Bahru al-Muhiath, Juz 5, (Beirut; Dar al-Fikr, tt.), hal. 526

[2] Syihabuddin Mahmud bin Abdillah al-Husainy al-Alusy, Ruhu al-Ma’any fii Tafsiiri al-Quranu al-’Adhiim wa as-Sab’u al-Matsani, Juz 6, (Beirut; Dar al-Fikr, tt.), hal. 202

[3] Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr bin Katsir al-Quraisy al-Dimasyqy, Tafsir al-Quranul ’Adhim, Juz 3, (Dar at-Thayyibah li an-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999). hal. 429

[4] Fuad Amsyari, Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, cet. 2, (Jakarta; Ghalia Indonesia, 1981), hal. 12

[5] Dalam mitologi Jawa, perubahan itu akan memuncak ketika Buto Cakil berdiri, yakni ketika “Kali Ilang Kedhunge/Sungai kehilangan kedalamannya”, “Pasar Ilang Kumandhange/Pasar Kehilangan Gemanya” dan ”Wong Wadon Ilang Wirange/Perempuan Hilang Sifat Malunya”.

[6] M. Abdullah Badri, Membangun Lingkungan Berbasis Kasih Sayang, dalam Erlangga Husada, dkk., Kajian Islam Kontemporer, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2007), hal. 133-134.
[7] Ibid, hal. 134

[8] Dr. Ir. Ahmad Imadudin Abdul Rahim, M.Sc., Islam Sistem Nilai Terpadu, cet. 1 (Jakarta: Geman Insani Press, 2002), hal. 35.

[9] Lihat Fahrudin M. Mangunjaya, Konservasi Alam dalam Islam, hal. 78.

[10] Ibid, hal. 54


Lihat di: http://abahisna.blogspot.com/2009/12/pelestarian-alam-dan-lingkungan-menurut.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
  • 1st
  • 2nd
  • 3rd
  • 4th
  • 5th
| Home | Mobile Version | Agama | Pendidikan | Teknologi | Kliping Media |
(c) 2013-2016 Radar Abdalla | Powered by Badriologi